PESAN IBADAH QURBAN (1446 H) – Meraih Gelar Khairun Naas sebagai Derajat Tertinggi Manusia

KEUTAMAAN MANUSIA DALAM MERAIH GELAR KHAIRUN NAAS (Kh.N)
Oleh: Moh. Khairudin

Materi ini disarikan dari kuliah KH. Drs. Syatori Abdur Rauf, Al-Hafidz di Sekolah Az Zahra, Condongcatur, Depok, Sleman, DI Yogyakarta.

Bagaimana kita dapat menggapai gelar Khairun Naas (Kh.N)? Kata KH. Drs. Syatori Abdur Rauf, Al-Hafidz, di saat banyak orang berlomba mencari popularitas dengan gelar dan kompetensi duniawi, ada satu gelar yang justru sangat dibutuhkan manusia secara umum, yaitu gelar Kh.N. Gelar ini kelak menjadi penentu manusia saat menerima penganugerahan dari Malaikat Izrail—apakah ia sukses meraihnya atau keluar dari kampus alam dunia tanpa membawanya.

Melihat dengan Mata Hati

Salah satu bekal utama untuk menempuh “kuliah kehidupan” dan meraih gelar Kh.N adalah kemampuan memandang fenomena kehidupan melalui mata hati. Bekal ini jauh lebih penting dari sekadar penglihatan mata kepala. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 46 dijelaskan:

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Dengan mata hati yang terbuka, seseorang akan mudah menerima kebaikan dengan suka cita. Sebagai ilustrasi, bayangkan dua gambar buah jeruk: satu segar, satu busuk. Mata kepala akan otomatis memilih yang segar. Namun, dengan mata hati, seseorang mungkin rela memilih jeruk busuk demi memberikan jeruk segar kepada temannya yang lebih membutuhkan.

Fenomena lain: gambar orang bergosip dan gambar orang mengaji. Al-Hujurat ayat 12 melarang ghibah (menggunjing), yang disamakan dengan memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati. Namun banyak orang tetap menikmati gosip karena memakai mata kepala, bukan mata hati. Padahal, orang yang melihat dengan mata hati akan tahu bahwa gosip bukan informasi, melainkan “gulai bangkai”.

Dengan mata hati, setiap kesempatan menjadi peluang untuk berbuat baik. Ini adalah proses menuju kebermanfaatan. Dalam bahasa Arab, manusia yang paling baik disebut Khairun Naas (Kh.N).

Tiga Keterikatan Menuju Khairun Naas

Seseorang yang mendasarkan segala upaya dan tindakannya pada mata hati akan selalu terikat pada tiga hal:

  1. Allah
  2. Diri sendiri
  3. Sesama manusia

Mari kita bahas satu per satu:

A. Keterikatan pada Allah

Kriteria Kh.N di hadapan Allah terdapat dalam hadis sahih riwayat Ahmad dan Thabrani dari Darrah binti Abu Lahab:

“Khairun Naas adalah: (1) yang paling semangat membaca dan mengkaji Al-Qur’an; (2) yang paling fakih dalam urusan agama; dan (3) yang paling semangat mencapai derajat takwa tertinggi.”

1. Semangat Membaca Al-Qur’an

Misalnya, seorang santri KH. Syatori yang awalnya bahkan tak bisa membaca satu huruf hijaiyah pun, namun gigih belajar. Ia bangun pukul 03.00 dini hari, naik ke lantai 3 untuk menghafal agar tak terdengar orang lain. Ia bahkan menangis dalam hujan, memohon rida Allah atas usahanya. Kini, ia telah menjadi guru Al-Qur’an yang hebat.

2. Semangat Mempelajari Agama

Khairun Naas juga adalah mereka yang paling tekun dan tidak kenal lelah dalam memperdalam ilmu agama, tanpa memandang status sosial.

3. Semangat Mencapai Takwa

Takwa menjadi titik akhir perjalanan spiritual seseorang. Mereka yang menggunakan mata hati akan terus berjuang baik secara individu maupun kolektif menuju ketakwaan.

B. Keterikatan pada Diri Sendiri

Dalam hadis sahih riwayat Thabrani dari Ibnu Umar RA disebutkan:

“Khairun Naas adalah yang terbaik akhlaknya” (khairun naas ahsanuhum khuluqan).

Orang yang berakhlak baik adalah mereka yang menganggap semua kejadian sebagai keberuntungan. Suami dengan istri cerewet, misalnya, adalah ladang pahala sabar. Orang yang ditipu bisa menganggap hartanya memberi manfaat bagi yang menipu, dan kesabaran itu akan dibalas dengan surga VIP: pintu surga bagi orang-orang sabar.

Kebahagiaan sejati datang dari syukur saat senang dan sabar saat susah. Bahkan, beramal saat susah lebih bernilai dibandingkan saat senang.

C. Keterikatan pada Sesama Manusia

Dalam hadis sahih disebutkan:

“Khairun Naas anfa’uhum lin-naas”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Paradigma lama menganggap “dimanfaatkan” sebagai bentuk kebodohan. Namun Rasulullah SAW menyatakan sebaliknya. Menjadi orang yang selalu bisa dimanfaatkan justru adalah bentuk keberuntungan tertinggi.

Contohnya: tetangga buang sampah sembarangan atau orang tidak kunjung bayar utang. Gunakan itu sebagai ladang pahala, bukan alasan untuk marah. Berikan pendidikan, bukan balasan dendam.

Filosofi Pohon Kelapa

Pohon kelapa dimanfaatkan setidaknya delapan kali: dipelintir, dijatuhkan, dikuliti, dipecah, dicukil, diparut, diperas, dan ampasnya dibuang. Namun pohon kelapa tetap tumbuh dan terus memberi. Jadilah seperti kelapa—tetap manis meski terus “diperas” orang lain.

Uang di tangan adalah rezeki. Uang yang keluar (diinfakkan, dipinjamkan, bahkan tertipu) adalah nikmat. Nikmat memberi, nikmat sabar. Jika seseorang lulus dalam ujian ini dan meraih gelar Kh.N saat “diwisuda” oleh Malaikat Izrail, insyaAllah surga terbaik akan menyambutnya: Surga Az Zahra.

Condongcatur, Senin, 21 Dzulqa’dah 1446 H / 19 Mei 2025

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait