Moh Khairudin
Guru Besar Fakultas Teknik, UNY
Masyarakat Indonesia secara umum gemar berbuat baik terlebih saat memasuki bulan-bulan khusus seperti bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan hampir semua umat Islam di Indonesia bahkan di seluruh dunia akan total team player atau gas pol untuk berbuat kebaikan. Hal ini dikarena masyarakat telah mendapatkan informasi tentang rahasia keberkahan dalam bulan Ramadhan.
Dalam bulan Ramadhan umat Islam dengan full power beribadah secara fisik (puasa, tahajud, tilawah Qur’an, dan ibadah lain) dan dengan harta melalui infak, shadaqah, zakat, dan wakaf. Terlebih manakala memasuki masa 10 hari terakhir bulan Ramadhan, semua umat Islam yang fahamm, dan sudah banyak yang faham — maka akan memakai gigi lima ibarat sopir untuk raih amal pahala bahkan dengan memarkir semua aktivitas dunia dan fokus untuk i’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kenapa itu dilakukan? Karena masyarakat sudah banyak yang tahu dan faham tentang keutamaan bulan Ramadhan terlebih saat 10 hari terakhir bulan Ramadhan dengan motivasi mendapatkan malam lailatul qadar yang setara dengan 1000 bulan kualitasnya.
Apakah hanya di bulan Ramadhan saja Allah berikan keagungan dan kemuliaan? Ternyata Allah Maha Penyayang lagi Pengasih. Selain bulan Ramadhan, Allah juga memberikan empat bulan yang lain yang disebut dengan bulan-bulan haram yaitu bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Sebagaimana dijelaskan dalam QS At-Taubah ayat 36:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Dalam QS At-Taubah ayat 36 disebutkan:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.
Dalam tafsir Li Yaddabbaru Ayatih, dijelaskan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata:
“Dari bulan-bulan itu Allah mengkhususkan empat bulan, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab. Allah menjadikan:
(1) mereka bulan-bulan yang suci dan kesuciannya begitu diagungkan, dan
(2) menjadikan dosa di dalamnya juga besar, sebagaimana Allah menjadikan amal shalih dan balasannya lebih besar yang dilakukan dalam bulan-bulan haram tersebut.”
Qatadah dalam tafsir Li Yaddabbaru Ayatih menjelaskan bahwa pada firman Allah tentang bulan-bulan haram:
{ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ }
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu
sesungguhnya kezhaliman pada bulan-bulan haram adalah kesalahan yang paling besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Walaupun semua kezhaliman adalah dosa yang besar, namun Allah berhak membesarkan suatu perkara sesuka-Nya.
Dijelaskan dalam hadits Rasulullah, yang dimaksud empat bulan haram tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Rasulullah SAW menyampaikan:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Artinya:
“Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar), sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun ada 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharam. Kemudian Rajab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan QS At-Taubah 36 dan hadits HR Bukhari tersebut telah jelas bahwasannya Allah memberikan penghargaan yang amat besar pada sesiapa saja yang dapat melaksanakan kebaikan dalam bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab.
Keagungan Bulan Dzulhijjah
Keagungan bulan Dzulhijjah disampaikan oleh Allah SWT secara khusus, di antaranya dalam QS Al-Fajr: 1-2:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
Dalam tafsir Li Yaddabbaru Ayatih dijelaskan:
Ayat (1): bahwa Mahasuci Dzat yang memuliakan umat ini, dan membuka baginya dengan tangan nabinya yang penuh kasih sayang pintu-pintu keutamaan dan kemuliaan yang banyak. Dan tidaklah suatu kaum melakukan suatu amalan yang besar dan amalan tersebut tidak diberikan kepada kaum lainnya melainkan Allah telah menjadikan suatu amalan untuk mengalahkan kaum lainnya, atau mendahulukan kaum tersebut di atas kaum lainnya, sehingga setiap kaum berada di atas keutamaan yang sama.
Ayat (2): Di antara sebab penyebutan ayat: { وَلَيَالٍ عَشْرٍ } yaitu 10 hari yang telah dikenal oleh orang-orang yang telah mendengarkan tentangnya, yang dikenal dengan hari yang sepuluh. Dan dalam penyebutannya bukan dengan (الليالي العشر) karena penyebutan lafazh ini dengan tanwin adalah pengagungan untuknya. Dan tidaklah hari-hari dalam satu tahun 10 hari yang agung berturut-turut seperti 10 hari Dzulhijjah, yang di dalamnya kaum muslimin menunaikan ibadah haji, ihram, masuknya kaum muslim dari berbagai belahan dunia ke kota Makkah, thawaf, yaum tarwiyah pada hari kedelapan, dan wukuf di Arafah pada hari kesembilan, dan pada hari kesepuluh hari qurban.
Pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah inilah dahulu para sahabat Rasulullah SAW memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah. Inilah 10 hari yang paling utama secara mutlak karena pada hari itu berbagai keutamaan dan amalan-amalan yang besar berkumpul, yang pada hari-hari lainnya keutamaan tersebut tidak ada, seperti: shalat, puasa dan sedekah, dan berkumpulnya kaum muslimin pada hari itu tidak sama dengan perkumpulan mereka pada hari-hari lainnya. Dan di antara amalan yang paling besar pada hari itu adalah haji ke Baitullah.
Rasulullah SAW secara khusus menjelaskan keagungan bulan Dzulhijjah ini seperti disebutkan dalam HR Imam Bukhari:
روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Artinya:
“Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apa pun.”
Amalan-Amalan pada Bulan Dzulhijjah
Berikut beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Dzulhijjah, khususnya pada 10 hari pertamanya:
- Melaksanakan ibadah haji dan umrah, bagi yang memiliki kemampuan. Ibadah ini merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki pahala sangat besar.
- Berpuasa pada hari-hari tersebut, terutama pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu hari Arafah. Dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW disebutkan:صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَArtinya:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim) - Memperbanyak takbir, tahlil, tahmid, dan dzikir.
Dalam QS Al-Hajj: 28 Allah berfirman:وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”Imam Bukhari berkata bahwa yang dimaksud dengan hari-hari itu adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Para ulama menegaskan pentingnya memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, termasuk takbir, tahlil, dan tahmid baik di masjid, rumah, pasar, dan tempat lainnya, dengan suara yang keras (bagi laki-laki) sebagai bentuk syiar. - Bertaubat dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan segala bentuk maksiat.
Meninggalkan dosa adalah kewajiban setiap saat, terlebih pada waktu yang memiliki keutamaan seperti bulan Dzulhijjah ini. Dosa menjadi penghalang seseorang meraih rahmat dan ampunan Allah. - Memperbanyak amal shalih secara umum, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menyambung silaturahim, berbuat baik kepada sesama, dan lainnya. Karena amal pada waktu ini lebih dicintai oleh Allah.
- Berqurban pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq.
Ini merupakan sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu. Allah berfirman dalam QS Al-Kautsar: 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”
Dalam hadits disebutkan:
ما عمل آدمي من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، إنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع من الأرض، فطيبوا بها نفسا
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
“Tidak ada amalan anak Adam yang lebih dicintai Allah pada hari Idul Adha selain menyembelih hewan qurban…” - Tidak memotong rambut dan kuku bagi yang hendak berqurban, dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurban disembelih.
Berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعَرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memanfaatkan waktu mulia ini dengan sebaik-baiknya.
