Oleh: Ust. Muhammad Muhlis
*Disampaikan pada saat prosesi Sholat Iedul Adha 1446 H, 6 Juni 2025, di Lap. Olahraga Dsn. Babadan, Limpung, Batang, Jawa Tengah
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَعَ لَنَا ٱلْأَعْيَادَ، وَجَعَلَ فِيهَا ٱلْقُرُبَاتِ وَٱلطَّاعَاتِ وَٱلْأُجُورَ وَٱلْمِيزَانَ.
نَحْمَدُهُ حَمْدَ ٱلشَّاكِرِينَ، وَنَسْتَغْفِرُهُ ٱسْتِغْفَارَ ٱلتَّائِبِينَ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنَجِّي مِنَ ٱلْعَذَابِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ ٱللَّهُ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ وَٱلْكِتَابِ.
ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي ٱلْفَضْلِ وَٱلْمَآبِ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allahu Akbar wa lillaahil hamd.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang sejati adalah ketika kita tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah, baik dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan lapang maupun sempit.
Hari ini, kita berkumpul di lapangan ini untuk merayakan salah satu hari besar dalam Islam, yakni Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban. Ini adalah hari penuh makna yang mengingatkan kita pada keteladanan agung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam.
Qurban: Simbol Pengorbanan Tanpa Batas
Qurban berasal dari kata qaruba–yaqrubu–qurbanan, yang berarti mendekat. Maka, ibadah qurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi merupakan ungkapan ketundukan, cinta, dan pengorbanan tanpa batas kepada Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
{ فَلَمَّاۤ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِینِ }
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)
Ayat ini menggambarkan momen puncak ketaatan: seorang ayah yang siap mengorbankan anaknya demi perintah Allah, dan seorang anak yang rela menyerahkan dirinya dalam ketaatan total kepada Tuhannya. Pekik nya, “Apapun perintah Allah, Aku SIAP !”
Karena kesungguhannya mereka, kemudian Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan:
{ وَفَدَیۡنَـٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِیمࣲ }
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)
Pengorbanan inilah yang menjadi landasan syariat qurban bagi umat Islam hingga hari ini.
Hadis Tentang Keutamaan Qurban
Rasulullah ﷺ bersabda:
ما عمل ابن آدم يوم النحر عملاً أحبَّ إلى الله من إراقة الدم …
“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berqurban.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim – Hasan Shahih)
ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين، ذبحهما بيده، وسمى وكبر
“Rasulullah ﷺ berqurban dengan dua ekor kambing jantan, bertanduk dan berbulu putih kehitaman. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, membaca basmalah dan takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan nilai spiritual dan simbolik dari ibadah qurban. Ia bukan hanya ritual fisik, tetapi persembahan hati yang tulus kepada Allah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillaahil hamd.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Qurban adalah simbol bahwa segala sesuatu yang kita miliki—harta, jiwa, bahkan keluarga—adalah titipan Allah yang bisa saja diminta kembali kapan saja. Maka, kita harus siap mengorbankannya jika Allah menghendaki, sebagaimana Ibrahim dan Ismail telah mengajarkan kepada kita. Pekik keduanya, “Apapun perintah Allah, Kami SIAP !”
Dalam konteks kehidupan hari ini, pengorbanan tanpa batas bukan berarti mengorbankan nyawa atau darah secara harfiah, tetapi dapat kita hayati sebagai:
* Mengorbankan ego untuk menegakkan kebenaran,
* Mengorbankan waktu, tenaga, dan harta untuk dakwah dan kemanusiaan,
* Mengorbankan kesenangan pribadi demi kemaslahatan umat.
* Dsb.
Pendapat Para Ulama
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa:
“Hakikat qurban adalah menyembelih hawa nafsu, mematahkan syahwat, dan menegakkan ruh penghambaan kepada Allah.”
Sementara Ibn Qayyim al-Jawziyyah mengatakan:
“Qurban adalah salah satu bentuk nyata dari ubudiyyah (penghambaan) dan mahabbah (cinta) seorang hamba kepada Rabb-nya. Ia menjadi simbol totalitas ketaatan.”
Pesan Penutup
Marilah kita hidupkan sekuat tenaga, selagi hidup masih Allah titipkan, semangat qurban dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan hari raya ini bukan hanya perayaan tahunan, tapi momentum perubahan dan perbaikan. Kita belajar dari Nabi Ibrahim dan Ismail bahwa iman sejati adalah ketika kita siap memberi dan berbagi, bahkan ketika harus mengorbankan hal yang paling kita cintai.
Semoga kita semua yang hadir di kesempatan ibadah Iedul Adha tahun ini, tersadarkan untuk menjadi Ibrahim dan Ismail di masa kini. Amin
ٱللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ ٱلرَّاحِمِينَ.
ٱللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ٱلصَّلَاةَ وَٱلْقُرْبَانَ، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ ٱلْكَرِيمِ. وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا لِغُفْرَانِ ذُنُوبِنَا وَرَفْعِ دَرَجَاتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةِ.
ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْ هَذَا ٱلْعِيدَ عِيدَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَنَصْرٍ وَفَتْحٍ لِلْمُسْلِمِينَ. وَوَحِّدْ صُفُوفَهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَارْفَعِ ٱلْبَلَاءَ وَٱلْوَبَاءَ عَنْ بِلَادِنَا وَسَائِرِ بِلَادِ ٱلْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ.
وَصَلِّ ٱللَّهُمَّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ.
