Halaqah Keislaman Perdana Sembari Berbekal Buku Fiqh Empat Madzhab

Oleh: Moh Khairudin

Praktisi Pendidikan dan Pembaca Bidang Teknik Elektro, Universitas Negeri Yogyakarta

 

Ahad, 13 Rabiul Akhir 1447 H bertepatan dengan 5 Oktober 2025 tepat pukul 12.30 WIB sesuai kesepakatan penulis memasuki lokasi tempat dilaksanakannya program halaqah keislaman para alumni jamaah haji KBIHU Multazam Yogyakarta.

Oh ya, program halaqah keislaman ini adalah fasilitas dari KBIHU Multazam Yogyakarta bagi semua alumni jamaah haji-nya untuk menjaga kemabruran sepanjang hayat pasca kepulangan haji. Kegiatan halaqah keislaman ini biasanya dilaksanakan setiap pekan sekali atau dua pekan sekali bergantung pada kesepakatan peserta halaqah dan pengampunya. Sebelum mengikuti program halaqah keislaman ini peserta yakni para alumni jamaah haji KBIHU Multazam Yogyakarta telah mengikuti program Kajian Islam Intensif Pasca (KIIP) Haji selama 8 kali pertemuan atau sekitar dua bulan karena dilakukan sepekan sekali, yakni setelah kepulangan haji dari tanah suci. Kegiatan KIIP diakhiri dengan program malam bina iman dan taqwa (mabit) dan pengelompokan menuju kelompok kecil sekitar 10 hingga 15 orang sesuai daerah asal (kecamatan) masing-masing.

Saat mabit, kebetulan penulis sedang ada tugas luar kota sehingga tidak dapat hadir dan hanya diberi WA oleh panitia kalau mendapat tugas menjadi pengampu halaqah keislaman untuk satu kelompok. Walhasil penulis langsung dimasukan dalam suatu grup WAG. Melalui grup WAG itulah penulis mulai kenalan dengan anggota grup yang merupakan para alumni jamaah haji KBIHU Multazam Yogyakarta. Adapun para anggota WAG secara geografis rumah adalah berdekatan dengan rumah penulis. Lumayan juga sih ada yang berjarak hingga 11 km, tapi tampaknya itu kelompok yang terdekat mungkin.

Singkat cerita penulis mencoba menghubungi seseorang yang katanya telah ditunjuk sebagai ketua kelompok sebut saja namanya Pak Ganang (bukan nama sebenarnya). Lalu penulis mencoba telpon dan menawarkan waktu yang bisa disepakati kapan akan diadakan program halaqah. Di WAG pun telah bergulir pilihan waktu-waktu yang ditawarkan. Tampaknya peserta maupun penulis sebagai calon pengampu halaqah ini sangat padat waktunya, sehingga hanya tersisa waktu hari Ahad jam 12.30 WIB sampai waktu asar. Walhasil luar biasa disepakati waktu untuk halaqah keislaman tiap hari Ahad pukul 12.30 WIB walau waktu seperti ini adalah waktu keluarga dan nyaman untuk beristirahat. Adapun tempat untuk pelaksanaan program halaqah keislaman ini berdasar kesanggupan dan bergantian di rumah para peserta halaqah.

Setelah disepakati hari pelaksanaan untuk program halaqah keislaman, maka penulis pun mulai mempersiapkan bagaimana dan materi apa yang perlu disampaikan selama program halaqah dari mulai pertemuan perdana hingga kira-kira empat pertemuan berikutnya. Tibalah saatnya hari pelaksanaan program halaqah untuk hari perdana yaitu hari Ahad, 13 Rabiul Akhir 1447 H bertepatan dengan 5 Oktober 2025.

Setelah sholat dhuhur, maka penulis mulai persiapan untuk berangkat. Penulis sudah menyiapkan materi pertama untuk halaqah perdana tentang urgensi menjaga keislaman, keimanan, dan ketaqwan sepanjang hayat. Selain materi inti, penulis ber-insting dan memprediksi biasanya kalau penulis mengikuti kegiatan-kegiatan kajiaan keislaman terkadang peserta bertanya pada narasumber diluar materi yang disampaikan. Pertanyaan para peserta biasanya pada masalah fiqh furu’iyah (fiqh ibadah mahdhoh) yang berkembang pada masyarakat. Oleh karena itu penulis selain menyiapkan materi inti juga membawa buku sebagai bekal antisipasi dalam menjawab pertanyaan. Dalam antisipasi menjawab pertanyaan yang tak terduga tentang masalah fiqh furu’iyah yakni dengan cara membawa buku berjudul fiqh empat madzhab dua jilid.

Penulis sendiri tidak hafal semua isi dalam buku tentang fiqh empat madzhab dua jilid tersebut. Buku ini setiap jilid tebalnya hampir 5 centimeter. Penulis hanya menghafal isi dari daftar isi buku dua jilid tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi bila ada pertanyaan terkait fiqh furu’iah maka penulis akan ingat melalui list daftar isi buku tersebut. Sehingga untuk menjawabnya penulis dengan cara membuka buku tersebut. Selanjutnya penulis akan membacakan isi buku tersebut sesuai dengan pertanyaan yang diajukan bila ada yang sesuai dengan pertanyaan para peserta. Penulis akan berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta yang berkaitan fiqh furu’iah dengan jawaban yang akurat dan berlandaskan keilmuan, dan tentu terlepas dari kebodohan ilmu karena penulis hanya membacakan buku tersebut.

Oh ya mengapa penulis membawa buku fiqh empat madzhab ini untuk bekal Cadangan saat sesi tanya jawab bila ada yang berkaitan dengan fiqh furu’iah. Maaf penulis tidak memilih buku yang lain karena buku fiqh empat madzhab ini saat membahas satu permasalahan mengacu pada empat pendapat imam madzhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Ini menurut penulis lebih moderat bila ada peserta halaqah yang bervariasi dalam memahami dan cara menjalankan fiqh, sehingga semuanya mendapat sudut pandang yang benar.

Ya terasa berat memang membawa buku dua jilid yang tebal, hanya sebagai bahan bekal untuk sesi tanya jawab. Tapi bagi penulis akan menjadikan lebih tenang. Walaupun materi inti mungkin tidak berkaitan dengan fiqh furu’iah, karena materi selain ibadah itu ada yang lebih mendasari ibadah seperti alquran, hadits, aqidah, akhlak, shirah, dan tentu ibadah sebagai realisasi keislaman seseorang.

Pada hari dan pelaksanaan program halaqah perdana, penulis segera meluncur ke tempat yang telah disepakati. Setelah berbekal google map, tibalah di tempat pelaksanaan. Disambut dengan senyuman ceria oleh tuan rumah, sebut saja Pak Hasan (bukan nama sebenarnya). Di dalam ruang tempat halaqah perdana, seorang ibu sedang menata konsumsi dan tempat yang sudah siap digunakan, beliau adalah istri Pak Hasan.

Saya bahagia karena tuan rumah kompak sekali, sang suami menjadi among (penyambut) tamu peserta halaqah dan sang istri menyiapkan ube rampe (konsumsi dan tempat) di dalam ruangan yang sangat lebar. Saya ijin memasuki ruangan untuk mengkondisikan diri sebelum ketemu para peserta halaqah yang lain, kebetulan penulis datang yang pertama kali selain tuan rumah. Maklum saya belum pernah kenal dan faham peserta halaqah yang akan hadir, hanya tahu nama dan nomer handphone dari grup WAG yang telah dibuat oleh pengurus KBIHU Multazam Yogyakarta.

Setelah menunggu beberapa saat tepat pukul 13.00 WIB peserta sudah berkumpul 11 orang sesuai pada list WAG yakni ada 11 orang yang bersedia hadir. Bersebelas peserta terdiri dari Bapak dan ibu berpasangan suami istri. Dari raut muka, penulis merasa adalah yang paling muda di forum tersebut. Penulis mohon ijin ke tuan rumah untuk memulai, alhamdulillah tuan rumah berkenan menjadi moderator atau MC atau apalah sebut saja yang mengantarkan forum. Setelah itu tuan rumah menyerahkan pada penulis selaku pengampu halaqah.

Penulis lalu membukanya dengan muqodimah seperti biasanya mengucapkan terima kasih atas kesediaannya hadir dan bergabung dalam forum halaqah keislaman ini. Penulis singkat cerita memaparkan rangkaian isi kegiatan halaqah, mulai dari baca alquran, materi inti, tanya jawab dan diakhiri informasi lain dari para peserta halaqah.

Untuk acara pertama, baca quran penulis menawarkan akan membaca alquran dari alfatihah lalu albaqarah atau dari belakang surat annaas baru ke depan. Ternyata peserta sepakat memulai dari QS Annaas, lalu penulis memulai memandu membaca surat Annaas. Penulis meminta peserta agar membuka alquran hardcopy atau juga boleh melalui HP. Nah bagi yang melalui HP penulis menganjurkan peserta agar membuka link quran kemenag yaitu : https://quran.kemenag.go.id/ . Penulis menganjurkan membuka link tersebut karena di aplikasi ini ada bacaan tuntunan mode suara. Jadi penulis diawal memandu membaca ta’awudz dan basmalah yang benar sesuai standar tajwid.

Alhamdulillah penulis pernah dan lulus ujian sertifikasi (syahadah) baca Quran Metode Qiroati, sehingga mempunyai bekal cukup untuk sharing tentang baca quran yang sesuai standar tajwid. Setelah memandu membaca ta’awudz dan basmallah lalu mulai baca surat annaas. Caranya adalah bagi yang pegang HP dan buka aplikasi quran kemenag, penulis meminta klik tombol segitiga pada setiap ayat untuk mendengarkan bacaan versi native speaker (orang arab membaca quran).

Setelah itu penulis mencontohkan membaca ayat per ayat. Pada ayat pertama penulis contohkan membacanya lalu menekankan bacaan-bacaannya misal ada huruf ‘ain harus dari pangkal tenggorokan, ada bacaan ghunnah harus dengung dan seterusnya. Lalu setelah ayat satu dicontohkan dan dijelaskan maka peserta halaqah diminta membaca secara bersama-sama. Demikianlah sesi membaca quran sehingga selesai sampai ayat keenam atau terakhir dari surat annaas.

Setelah selesai membaca quran, penulis mencoba menggaris bawahi tentang kandungan dari surat Annaas secara singkat. Penulis memandu peserta agar setiap membaca alquran jangan sampai hanya dimulut saja, tapi usahakan mengetahui maknanya minimal terjemahannya dari bahasa arab ke bahasa Indonesianya. Penulis menjelaskan kalau ada yang kurang jelas tentang arti dari suatu ayat, karena memang kadang terjemahan kemenag RI yang ada pada aplikasi quran kemenag hanya secara global, maka penulis menyarankan bagi peserta yang ingin mendalami tafsir bisa membuka link https://tafsirweb.com/ . Ini adalah aplikasi tafsir berbahasa Indonesia. Lalu penulis mulai mencontohkan cara membuka aplikasi https://tafsirweb.com/ pada surat Annaas.

Peserta diminta buka link https://tafsirweb.com/ lalu dipandu menuju surat Annaas, setelah ketemu surat annaas dan meng-klik surat annaas, penulis mencontohkan untuk menekan angka 1 yang bergaris bawah dan berwarna biru pada ayat pertama surat annaas. Setelah ditekan maka akan muncul tafsir dari surat annaas ayat 1 berisi penjelasan tafsir dari sejumlah 14 kitab tafsir khusus ayat 1 saja.

Penulis melakukan ini karena pesertanya adalah alumni jamaah haji. Penulis lihat semangat belajarnya yang luar biasa maka penulis menekankan, mulai sekarang berhentilah menargetkan banyak-banyakan membaca quran yang hanya sampai lidah dan mulut saja. Tetapi mulailah membaca quran hingga sampai ke hati dan fikiran melalui memahami maknanya.

Sampai salah satu jamaah yang ternyata adalah seorang professor di salah satu universitas terkemuka di Jogja ini menyimpulkan, woh ternyata untuk membaca surat annaas saja kita mungkin perlu waktu tidak cukup dari satu jam ya. Penulis jawab yah, kalau ingin sampai membacanya pada level faham hati dan fikiran karena setiap ayat dilanjutkan membaca terjemahannya bahkan membaca tafsirnya ayat per ayat. Ya begitulah, penulis menyampaikan mari Bapak ibu yang sudah alumni haji mesti berusaha keras belajar alquran agar tidak sekedar sampai di lidah dan tenggorokan saja.

Bahkan penulis menyarankan bagi yang pernah belajar bahasa arab, silakan dapat membuka tafsir yang berbahasa asli yaitu bahasa arab melalui link https://tafsir.app/ . Setelah selesai mereview bacaan dan kandungan surat Annaas, berikutnya penulis mulai menyampaikan materi inti tentang tujuan hidup dan aqidah Islam. Materi dengan merujuk dan menyampaikan QS Ali Imron ayat 102 dan 103.

Penulis menyampaikan bahwa tujuan hidup di dunia adalah memastikan saat keluar dari dunia ini adalah menyandang status muslim. Namun untuk bisa mengakhiri kontrak di dunia dengan menyandang status muslim itu harus melalui tiga benteng utama. Benteng pertama adalah (1) harus menjadi orang beriman, benteng kedua (2) harus menjadi orang bertaqwa, dan benteng ketiga (3) harus menjadi orang bertaqwa dengan kelas ketaqwaan yang terbaik, bukan taqwa yang kaleng-kaleng. Itulah petunjuk umum agar manusia dapat lulus dari kampus dunia menuju kampus akhirat dengan status muslim. Penulis menceritakan beberapa contoh shahabat Rasulullah yang keimanannya luar biasa, dan contoh shahabat yang diakhir hayatnya kembali kekafiran.

Penulis selanjutnya menyampaikan bagaimana petunjuk pelaksanaan dan teknisnya agar bisa mencapai status muslim saat bertemu dengan malaikat izrail? Penulis melanjutkan dengan menjelaskan QS Ali Imron ayat 103. Di ayat 103 itulah petunjuk teknis dan pelaksanaannya, Singkat cerita penjelasan ayat 103 selesai. Materi tentang aqidah hari pertama selesai.

Kemudian penulis membuka sesi tanya jawab. Karena waktunya yang sudah mepet asar, maka hanya dibuka satu pertanyaan. Dan ternyata pertanyaannya adalah…., Pak bagaimana sikap kita yang tidak terbiasa sholat subuh dengan qunut lalu menjadi makmun dari imam yang membaca qunut.

Naah…kan pertanyaan sesuai tebakan penulis, maka untuk menjawab pertanyaan ini, penulis ingat satu bab tentang sholat subuh dan qunut di buku fiqh empat madzhab. Lalu penulis merujuk ke buku tersebut dengan cara membacakannya di depan peserta. Tentu jawabannya insya Allah benar dan dengan empat variasi jawaban yang akurat insya Allah karena membaca buku. Sebagai informasi peserta halaqah ini ada yang professor, ada dua orang yang doktor, ada yang praktisi ekonomi BMT dan lainnya.

Coba bayangkan seandainya sebagai pemateri dengan penanya seorang akademisi lalu pemateri menjawab pertanyaan tanpa dasar yang kuat, bisa dipastikan akan terjadi perdebatan sengit di forum halaqah. Padahal peserta datang ke halaqah untuk mencari sesuatu yang mungkin tidak didapatkan di forum kajian keislaman yang lain dalam keteduhan berpendapat, bergaul, dan berinteraksi saat bersama bersemi belajar tentang keislaman untuk kehidupan yang lebih baik.

Wallahu’alam.

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait