Keluarga Tangguh sebagai Kunci dari Kebangkitan Nasional

Diantara Kunci Kebangkitan Indonesia Adalah Dukungan Kekuatan Keluarga Untuk Mencetak Generasi Tangguh Dan Hebat

Moh. Khairudin

Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, sekumpulan generasi muda yang sadar tentang pentingnya back up keluarga dalam mencetak Generasi Muda Tangguh Dan Hebat, mengadakan diskusi ringan tetapi berbobot tentang perspektif generasi muda dan generasi senior dalam mencetak generasi tangguh dan tidak cemen. Peran Keluarga sangatlah penting dalam berkontribusi memajukan dan bangkitnya Indonesia.

Diskusi ini diawali paparan hasil penelitian tim tentang apa dan siapa yang memberikan peran berdampak bagi generasi muda dalam menemukan jati dirinya yang tangguh dan hebat. Penelitian ini melibatkan lebih dari 315 responden dengan jawaban yang dianggap valid sekitar 260 responden.

Diantara hasil penelitiannya adalah (1) Kehadiran orang tua dalam bentuk waktu dan obrolan-obrolan ringan sangat membekas untuk berasah asih asuh bagi sang anak. (2) Motivasi terbesar anak dan gen muda dalam menemukan lingkungan baik dan lingkaran gen muda lain yang dipandu oleh sang mentor, adalah motivasi yang terlahir dari dirinya sendiri bukan karena paksaan orang tua. (3) Peran pendamping yang compatible selain orang tua untuk para gen muda sangat berdampak bagi lahirnya gen muda yang tangguh dan hebat.

Diskusi ini menghadirkan lima orang Gen Z secara luring dan tiga orang secara daring, untuk menyampaikan apa yang dialami dirinya hingga sehingga bisa menjadi sesorang yang dapat memikul beban dengan tangguh. Diskusi ringan tetapi berbobot juga menghadirkan para konselor kelas nasional yaitu Cahyadi Takariawan, Aunur Rofiq, dan Erika Dewi.

Saat sesi delapan orang Gen Z, Wafa salah seorang presenter Gen Z putri memaparkan bahwa dirinya yang yatim piatu dapat menjadi tangguh dan dapat menanggung beban, dikarenakan sewaktu mendiang ibunda hidup, sang ibu selalu meminta agar Wafa tetap berkomunikasi dan selalu berada dalam lingkaran para putri yang berusaha tangguh tentu dengan bimbingan para senior putri yang tangguh pula.

Hilmi juga Gen Z putra menyampaikan kalau dirinya pernah diminta mengisi acara taman pendidikan alquran yang lokasi berjarak 40 menit bersepeda motor dari kampus tempatnya berkuliah. Baru sekali ini katanya mengisi kegiatan yang berjarak jauh dari kampus, ternyata saat Hilmi sampai di tempat acaranya, ada seorang lelaki parubaya menepuk punggungnya seraya berkata, terima masih atas kedatangannya. Kata lelaki parubaya itu sungguh dulu ayah hilmi pernah setiap pekan datang ke tempat itu untuk mengisi pengajian. Luar biasa ayah Hilmi telah menggugah nurani Hilmi, bahwa ayahnya ternyata dulu pernah setiap pekan datang. Dengan kalimat tersebut maka mulailah saat itu menjadi tonggak bangkitnya Hilmi untuk mulai menjadi generasi yang selalu bersedia melayani masyarakat sebagaimana ayahnya dulu.

Gen Z lain yang tidak kalah heroiknya adalah Jida. Jida yang saat itu kuliah di salah satu PTN di Solo pernah merasa galau untuk bisa tetap menjadi Gen Z yang bermanfaat bagi sesama. Dalam kegalauannya itu Jida malah memilih menjauh dari lingkungan Gen Z yang terbina rapi oleh seorang mentor. Walhasil Jida malah menyendiri sehingga justru jauh dari api dipanggang untuk mewujudkan cita agar dapat menjadi Gen Z yang menuai kebermanfaatan bagi sesama. Dengan penuh kebingungan Jida memilih untuk segera kembali ke komunitas yang pernah dilaluinya yaitu komunitas sekelompok Gen Z yang selalu mendapat bimbingan para mentor. Ya bimbingan para mentor dirasakan sangat diidamkan untuk tetap menjaga kestabilan mood dan menemukan lingkungan kondusif dalam mewujudkan cita menjadi insan bermafaat bagi sesama yang sistemik. Mentor sebagai partner sekaligus pengganti orang tua untuk mengurai kegundahan yang sering mengintai Gen Muda.

Gen Muda lain adalah Ghozi juga mengiyakan bahwa kehadiran dan kedekatan orang tua sangat berdampak bagi dirinya dalam membentuk jati diri yang tangguh sehingga tidak cemen. Sangat berkelas apa yang disampaikan generasi muda dihadapan generasi senior yang hadir. Selanjutnya setelah Gen Z menyampaikan perspektifnya tentang kehadiran orang tua dalam membentuk jati diri generasi muda, diskusi dilanjutkan paparan oleh para konselor keluarga nasional. Para konselor kelas nasional yang dihadirkan secara luring yaitu Cahyadi Takariawan, Aunur Rofiq, dan Erika Dewi.

Usth Erika Dewi biasa disapa, ia merupakan jebolan S1 dan S2 di Sudan, aktifis majlis taklim di darut tauhid, pengelola biro umroh. Usth Erika menyampaikan bagaimana semestinya mengelola Pendidikan (dalam Bahasa arab, tarbiyah) anak-anak. Sebelum anak-anak tertarbiyah dan mendapatkan lingkungan serta mentor dengan baik maka sepatutnya orang tua tidak dapat tidur dengan nyaman.

Ustdh Erika merupakan seorang ibu dari enam orang anak yang hidup dan satu anak meninggal dunia. Ustdh Erika menjelaskan bahwa Ibu adalah contoh bagi anak-anak dalam tarbiyah. Anak-anak akan mengambil sisi positif dari orang tua tentang tarbiyah.

Anak laki-laki bertanggung jawab pada dirinya ketika sudah akal baligh. Anak sulung nya sejak smp saat pagi hari setelah solat tahajud langsung ke dapur untuk masak nasgor dan mie goreng untuk dijual ke teman sekolah. Sejak usia smp anak sulung sudah mandiri secara ekonomi.

Anak yang berikutnya tidak sama dengan kakaknya yang sulung. Walau anak laki-laki dan dipesantrenkan sejak SMP dan SMA. Terkadang anak yang dimasukan ke pesantren yang sedikit sekali bertemu dengan orang tuanya merasa dibuang di pesantren terlebih jarang ditengok oleh ibunya. Oleh karena itu Ustdh Erika merasa trenyuh dan minta maaf kepada anaknya yang laki-laki tersebut (nomer tiga) yang suatu saat akan ujian di SMA dan menelpon ibunya dengan menyatakan bahwa yang dibutuhkan dirinya hanya kehadiran sang Ibu di pesantren.

Anak-anak yang bervariasi secara talenta itu perlu disyukuri. Ada juga anak bungsu saat lulus SMP tidak mau melanjutkan ke SMA, hanya mau menghafal Al Quran saja. Alhamdulillah 2,5 tahun selam di pesantren, anak yang bungsu tersebut dapat menghafal Al Quran 30 juz di pesantren. Anak ustdzh Erika ada juga yang hobi melukis sejak kecil, akhirnya sejak kecil mulai eksplorasi menggambar wajah temannya. Lalu hasil lukisannya dijual ke temannya yang tertarik. Sehingga mendapatkan uang jajan dari hasil lukisannya. Ada juga anak yang lain menuruni minat dan bakat orang tuanya sebagai konselor.

Ustdzh Erika menegaskan jangan pernah membenturkan antara kuliah dan nikah. Rasulullah sendiri meminta agar para orang tua tidak menunda dalam menikahkan anaknya. Rasulullah bersabda berdasarkan hadist dari Ali Bin Abi Tholib, “Whai Ali, ada tiga hal, janganlah kamu menunda pelaksanaannya, yaitu (1) laksanakan shalat jika telah masuk waktu, (2) mengurus jenazah jika ada yang meninggal, dan (3) menikahkan seorang gadis jika telah mendapatkan pasangan yang sesuai”.

Saat kuliah di Sudan, Ustdzh Erika mempunyai mengalami secara bersamaan tiga orang anak sakit secara bersamaan. Sementara beliau dan suaminya akan ujian kuliah secara bersamaan, di kampus yang sama. Akhirnya beliau membawa tiga orang anaknya ke rumah sakit sendiri tanpa suami. Subhanallah ternyata beliau tidak mendapatkan taksi tetapi naik tumpangan gratisan, ternyata yang ditumpangi adalah rektor universitas afrika. Akhirnya singkat cerita Ustdzh Erika mendapat tempat pindahan kampus dengan tanpa mengulang ke kampus afrika tersebut. Hal ini terjadi karena Sudan dalam kondisi perang, sehingga kampus negeri semua tutup dan mahasiswa kalau akan kuliah harus pindah ke kampus swasta. Sekali lagi Ustdzh Erika menegaskan bahwa orang tua mesti pantang menyerah untuk mendidik anak dalam kondisi berbagai variasi keunikan setiap anak.

Selanjutnya ceramah dilanjutkan oleh Ust Salim A Fillah yang pada kesempatan ini menjelaskan bahwa pada Tahun 2005, beliau survei anak-anak dai yang hasilnya 30 % menyatakan anak-anak dai tidak mau menjadi seperti bapak ibunya yaitu menggeluti kegiatan aktifitas social keagamaan. Maka sebagus apapun pengaruh orang tua di luar rumah terhadap orang lain akan menjadi tergerus ketika orang tua tidak bisa berkomunikasi yang baik dengan anak-anaknya saat berada di dalam rumahnya sendiri.

Salah satu tanda qiyamat adalah jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki, dengan kalimat 50 perempuan lebih banyak dari 1 orang qoyim. Dalam Shahih Imam Bukhari nomor hadis 81 yang bersumber dari Anas bin Malik.

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ وَيَكْثُرَ الزِّنَا وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan merebaknya kebodohan, perzinahan secara terang-terangan, jumlah perempuan yang lebih banyak dan sedikitnya laki-laki, sampai-sampai (perbandingannya) lima puluh perempuan sama dengan hanya satu orang laki-laki.”

Ini menandakan tidak jalannya fungsi seorang suami dan atau ayah. Sang suami yang kadang jatuh secara ekonomi sementara istrinya mungkin punya status ekonomi yang bagus. Ini bila tidak ada kesimbangan fungsi suami dan istri maka bisa merusak tatanan rumah tangga.

Uyannah ketika melihat Rasulullah bermain bersama anak-anak bahkan memeluk anak-anak. Maka uyannah memberikan komentar kalau dirinya punya anak banyak tetapi tidak satupun yang pernah diciumnya. Kehadiran ayah untuk anak adalah menjadi trend di masa sekarang. Bila ada masalah pada anak-anak maka yang menjadi orang pertama dalam menerima curhatan masalah adalah sang ayah atau orang tua.

Ketidak hadiran seorang ayah dan suami maka akan menjadi predator paling merusak dalam proses tarbiyah anak-anaknya.

Rasulullah memerintahkan agar para suami dan ayah saat pulang dari luar rumah maka mempersiapkan wewangian dan kebugaran untuk bersiap berinteraksi dengan anak-anaknya. Pada usia 60 tahun Rasulullah sepulang dari perjalanan jauh dalam perjuangan, saat tiba di rumah, cucu beliau yaitu Hasan dan Husein langsung naik ke punggung beliau minta kuda-kudaan keliling rumah, dan itu dilakukan dengan baik oleh Rasulullah SAW.

Konselor berikutnya yang tampil dalam diskusi ini adalah Ust Aunur Rofiq. Di forum ini Ust Aunur Rofiq menjelaskan ketika Umar RA menggantikan Abu Bakar RA. Maka Umar RA berkomentar bahwa semua yang dilakukan Abu Bakar RA itu sudah luar biasa. Artinya Ust Aunur Rofiq menjelaskan bahwa yang disampaikan Ustdz Erika dan Ust Salim A Fillah itu sudah sangat lengkap dan luar biasa.

Ust Aunur Rofiq menjelaskan sebetulnya anak-anak kita semua itu adalah mutiara. Sayang kadang mutiara itu dipegang oleh tukang batu, bukan tukang mutiara. Semoga kita bisa menjadi tukang mutiara yang bisa menghiasi Mutiara yang ada di Tengah-tengah keluarga kita, yaitu anak-anak kandung.

Dalam alquran ada Ali Imron (keluarga Imran), ada Profil Muhammad SAW dn keluarga Muhammad dan ada profil Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Upaya untuk senantiasa berusaha menjadikan keluarga sebagai tempat menanam sehingga kelak dapat  menghasilkan para pemuda hebat dan tangguh yang siap melakukan perjuangan.

Di awal dakwah islam, sangat masyhur  disebutkan tentang keluarga Yasir yaitu Rasulullah menyampaikan kalimatnya yang terkenal dengan shobron ala aalii Yasir, bersabarlah keluarga Yasir yang saat awal Islam itu ibu dan Bapak nya Yasir mengalami cobaan dan deraan yang luar biasa dari para orang musyrik saat itu.

Betapa peran keluarga itu luar biasa. Salah satu yang menjadikan Ibrahim AS sebagai abul anbiya adalah bagaimana Ibrahim menjadikan anak-anaknya sholih dan semuanyà menjadi nabi. Kesholihan keluarga itu penting sehingga dapat menutupi kekurangan yang ada dalam keluarga. Dalam kisah QS Al Kahfi, Allah menyelamatkan harta bagi kedua oang anak yatim dikarenakan bapaknya adalah orang sholih. Wakana abuhuma shalihan.

Bagaimana pesan-pesan Ibrahim kepada anak-anaknya. Ibrahim selain mendidik anaknya juga sebagai tukang mutiara. Saat mengambil hajar yang saat itu budak dari Firaun, maka hajar diselamatkan oleh Ibrahim dan dicetak menjadi mutiara.

Salah satu hal penting dalam pendidikan keluarga adalah tentang keluarga Imron. Saat istrinya Imron mengandung anaknya, maka bernadzar agar kelak anaknya dapat menjadi muharrara yaitu orang berhidmat pada rumah dan agama Allah. Tugas utama orang tua dalam pendidikan keluarga adalah menjadikan anak agar bervisi berbakti dan berhidmat pada agama Allah, apapun profesinya. Maka lahirlah dari istrinya Imron adalah maryam. Dalam bahasa ibrani, maryam artinya orang yang menjadi pelayan Allah (khadimu ar rabb)

Keluarga yang diharapkan adalah keluarga yang dapat melakukan perubahan. Anak sekarang mengalami era at tafaha. Digiring pada satu karakter yang remeh temeh, tidak punya makna, medio crazy, orangnya disebut mediocer.

Sebagaimana Rasululullah bersabda :

قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم ):سيأتي زمان على أمتي يصدق فيه الكاذب ويكذب فيه الصادق ويخون فيه الامين ويؤتمن فيه الخائن ينطق فيه الرويبضاء . قيل يا رسول الله وما الرويبضاء قال ؛الرجل التافه يتكلم في شؤون العامة وهذا ما يحدث في مجتمعنا اليوم لوثوا الشرف وساهموا في زرع الفتن واستغلال العقول الضعيفة لقضاء  أغراضهم الشخصية.

Rasulullah saw bersabda: Akan datang suatu masa atas umatku, di mana orang yang dusta akan dipercaya dan orang yang jujur ​​akan disebut pendusta, orang yang dapat dipercaya akan dikhianati dan pengkhianat akan dipercaya, dan orang yang hina akan berbicara. Dikatakan, Wahai Rasulullah, apakah Ruwaibidha itu? Ia berkata, “Orang yang tidak tahu diri dan bicara tentang urusan publik. Inilah yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Mereka telah mencoreng nama baik, ikut menyebarkan perpecahan, dan mengeksploitasi pikiran yang lemah untuk mencapai tujuan pribadi mereka.”

Era generasi at taafaha ini disebut oleh Rasulullah sebagai generasi pemalas. Dikisahkan suatu hari Shahabat bernama Ibnu alkhososiyah, berkata kepada Rasulullah. Ya Rasulullah saya ingin berbait pada islam. Lalu Rasul memberikan syarat sebelum baiat.

Ibnu alkhososiah menawar syarat agar tidak zakat dan tidak jihad. Jawaban rasul adalah tanpa zakat dan tanpa jihad maka tidak ada surga. Budaya taafaha harus dihentikan karena untuk kemajuan itu perlu keseriusan dan kesungguhan.

Usth Erika memaparkan Abu Bakar RA sangat marah ketika Aisyah difitnah berzina. Akhirnya Abu Bakar terbesit untuk tidak mensubsidi orang yang melakukan fitnah pada Aisyah. Tetapi Allah langsung turunkan ayat tentang melarang untuk tidak berbuat baik gegara alasan kemarahan.

Kepahlawanan generasi muda saat perang badar, banyak anak-anak yang ikut perang, umair bin abi waqas dan saad bin abj waqas.

Cerita yang tak kalah heroik Ummu harisah, anaknya bawa pedang saja belum bisa, anaknya diantar ikut perang. Anaknya kena anak panah, anaknya akhirnya syahid dan disebutkan masuk surga firdaus.

Proses menitipkan anak ke pesantren terkadang perlu heroisme tersendiri. Proses memilihkan pesantren yang terbaik secara substansi dan kurikulum serta lingkungan pesantren yang penuh bonding terhadap anak. Pada saat anak di pesantren maka orang tua secara konsisten perlu mendoakan anak agar dapat belajar dengan baik di pesantren.

Wallahu a’alam.

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait