Khutbah Idul Adha 2026/1447H: Keteladanan Nabi Ibrahim AS Menyimpan Banyak Pelajaran Berharga dalam Mendidik Anak

Khutbah Idul Adha 2026/1447H: MAKNA KETELADANAN NABI IBRAHIM AS DALAM MENDIDIK ANAK DAN GENERASI PENERUS BANGSA

Moh Khairudin

Guru Besar Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta

7 Best Tips On How To Teach Kids About Islam In 2023 – DEENIN

Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ الذي نزَّل الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُوْنَ لِلْعَالَمِيْنَ نَذِيْرًا، اَلَّذِيْ لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ يَبْتَلِيْهِ فَجَعَلَهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا، ثُمَّ هَدَاهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِـرًا وَإِمَّا كَـفُوْرًا، فَمَنْ شَكَرَ كَانَ جَزَاؤُهُ جَنَّةً وَحَرِيْرًا، وَنَعِيْمًا وَمُلْكًا كَبِيْرًا.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، شَهَادَةً تَجْعَلُ الظُّلْمَةَ نُوْرًا، وَتُحُوِّلُ مَوَاتَ الْقَلْبِ بَعْثًا وَنُشُوْرًا، وَتُحِيْلُ ضَيِّقَ الصَّدْرِ اِنْشِرَاحًا وَحُبُورًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ خَلْقًا وَخُلُقًا، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابنِ عَبْد اللهِ الْمُرْسَلِ مُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ اِلَى يَوْمٍ يَلْقَاهُمُ اللهُ نَضْرَةً وَسُرُوْرًا، وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَحَرِيْرًا.

أَمّا بَعْد؛

فَيَاعِبَادَ الله، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ العَلِيِّ الْعَظِيمِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتابِه: ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا))

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، وَللهِ الْـحَمْد

Jamaah Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Perumnas Condongcatur yang dimuliakan Allah SWT. Hari ini adalah hari besar. Orang Jawa menyebutnya sebagai riyaya besar. Saat ini, jutaan manusia bersimpuh di Mina setelah melakukan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah. Hal tersebut adalah salah satu dari rangkaian haji yang merupakan pelaksanaan rukun Islam kelima. Kita, umat Islam yang berada di tanah air ini, disunnahkan melaksanakan sholat Idul Adha, setelah sebelumnya menjalankan puasa sunnah arafah.

Usai menunaikan sholat idul adha ini, prosesi dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban atau dalam bahasa Arabnya adalah udh-hiyah. Serial rangkaian sholat ‘Idul Adha, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban, diceritakan sangat indah dalam Q.S. Al-Kautsar ayat 2.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Artinya : “Maka, tunaikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”

Jamaah shalat shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Setiap kali kita mengenang momentum ibadah kurban, ingatan kita tidak akan lepas dari sosok agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar ritual menyembelih hewan qurban sebagai lambang ketaatan. Akan tetapi sebuah madrasah kehidupan yang sangat agung, khususnya dalam urusan pendidikan anak (tarbiyatul aulad).

Sudah menjadi kefahaman bersama bahwa seorang anak tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang shalih dan tangguh secara instan. Di balik ketaatan luar biasa seorang Ismail AS, ada jejak pendidikan luar biasa dari seorang ayah tercinta, Nabi Ibrahim AS.

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، وَللهِ الْـحَمْد

Jamaah shalat shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Bagaimanakah metode pendidikan Nabi Ibrahim kepada Anaknya Ismail AS? Al-Qur’an mengabadikan model Pendidikan anak yang ideal melalui dialog nan sangat indah antara sang ayah Ibrahim AS dan sang anak Ismail AS dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Pada ayat ini, setidaknya ada tiga (3) pelajaran besar bagi para orang tua, khususnya para ayah, dalam mendidik anak-anaknya. Anak di sini bisa sebagai anak biologis (anak kandung) maupun anak-anak ideologis (anak didik dari seorang guru, ustadz, dosen, atau generasi yang lebih muda di lingkungan tempat tinggal). Adapun tiga pelajaran tersebut adalah :

 

  1. Membangun Komunikasi yang Penuh Kasih Sayang (Dialogis)

Perhatikan panggilan Nabi Ibrahim AS kepada Ismail: “Yaa Bunayya” (Wahai anakku tercinta). Ini adalah panggilan kasih sayang yang melembutkan hati. Sebaliknya, sang anak Ismail AS menjawab dengan “Yaa Abati” (Wahai ayahku tercinta).

Nabi Ibrahim tidak menggunakan otoritasnya sebagai ayah secara otoriter. Meskipun perintah tersebut datang langsung dari Allah SWT melalui mimpi. Nabi Ibrahim AS tetap mengajak anaknya berdialog: “Fandzhur madza taraa” (Pikirkanlah bagaimana pendapatmu!).

Pelajaran yang dapat ditarik dari sini adalah: Seorang ayah di zaman modern harus meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol, mendengar pendapat anak, dan tidak mendidik dengan cara kekerasan atau diktator. Anak yang didengar pendapatnya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan menghormati orang tuanya.

Model Pendidikan Nabi Ibrahim AS kepada anaknya dengan mengedepankan dialog, ini adalah model pendidikan terbaik di dunia hingga saat ini. Model Pendidikan dengan berdialog ini sangat relevan dengan pendidikan untuk generasi gen z dan alpha yang cenderung ingin mendapatkan wahana untuk berdialog.

Pelajaran kedua:

  1. Menanamkan Akidah dan Ketaatan Sebelum Perintah

Mengapa sang anak Nabi Ismail AS begitu mudah menerima perintah yang sangat berat, yakni untuk disembelih? Jawabannya adalah karena Nabi Ibrahim AS telah menanamkan fondasi tauhid dan cinta kepada Allah sejak dini. Ismail AS mengetahui betul bahwa ayahnya tidak sedang mengada-ada, melainkan sedang menjalankan Wahyu ilahi.

Hal ini sejalan dengan amanah yang diingatkan oleh Rasulullah Muhamaad SAW dalam sebuah hadist:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Dan seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Pelajaran yang dapat dipetik adalah: Tanggung jawab utama seorang ayah bukan hanya memberi makan, pakaian, dan fasilitas duniawi (sekolah yang mahal). Tanggung jawab terbesar seorang ayah adalah menyelamatkan akidah anaknya agar selamat di dunia dan akhirat.

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، وَللهِ الْـحَمْد

Jamaah shalat shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Pelajaran ketiga:

  1. Keteladanan (Uswah Hasanah) dari Seorang Ayah

Nabi Ismail AS telah tulus mau berkorban karena ia melihat ayahnya adalah seorang ahli pengorbanan dan pengabdian. Nabi Ibrahim AS telah mengorbankan masa mudanya untuk berdakwah, mengorbankan kenyamanan hidupnya saat dibakar oleh Raja Namrud, dan mengorbankan perasaannya saat harus meninggalkan Hajar dan Ismail AS di lembah Bakkah yang tandus demi perintah Allah SWT, seperti termaktub dalam QS Ibrahim ayat 37.

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS Ibrahim : 37).

Anak adalah peniru yang ulung. Anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang orang tuanya katakan, melainkan juga melihat apa yang orang tua lakukan. Ketika seorang ayah rajin ke masjid, jujur dalam bekerja, dan berbakti pada orang tua, maka anak akan mencontohnya tanpa perlu banyak diperintah.

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، وَللهِ الْـحَمْد

Jamaah shalat shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Idul Adha kali ini berhimpitan dengan masa pendafataran siswa baru dan anak-anak kita semua untuk memasuki sekolah tingkat yang lebih tinggi. Para ayah dan bunda sekalian, sudahkah kita memastikan anak-anak kita mempunyai karakter Ismail AS, yakni karakter yang selalu taat pada perintah Allah SWT, karakter yang selalu taat kepada perintah ayah bundanya dan karakter selalu berbakti untuk kemajuan masyarakatnya.

Diantara ayah dan bunda mungkin ada yang sibuk dengan karir dan bisnisnya, akan tetapi kewajiban untuk mendidik anak agar berjiwa Ismail AS harus tetap terlaksana. Oleh karena itu marilah kita didik anak-anak kita dengan memastikan tempat sekolah anak-anak kita adalah sekolah yang mengajarkan aqidah, akhlak, dan ibadah yang benar dan kuat, tentu juga akademik. Kriteria dalam memilih sekolah untuk anak-anak kita yang mengajarkan aqidah, akhlak, dan ibadah yang benar dan kuat adalah syarat wajib bagi orang tua yang ingin anaknya tumbuh menjadi Ismail generasi mileneal. Banyak sekolah yang menawarkan prestasi akademik, tetapi sedikit sekali sekolah yang memberikan muatan aqidah, akhlak, dan ibadah yang benar dan kuat.

Oleh karena itu marilah kita daftarkan anak-anak di sekolah yang memberikan muatan aqidah, akhlak, dan ibadah yang benar dan kuat, tentu akademik yang bagus juga tidak dilupakan.

Marilah kita renungkan bersama. Sudahkah kita para orang tua menjadi sosok “Ibrahim” bagi anak-anak? Ataukah kita terlalu sibuk dengan gawai dan pekerjaan, sehingga anak-anak kehilangan figur seorang ayah di rumah? Keshalihan anak tidak datang dari ruang hampa, keshalihan lahir dari rahim keteladanan dan untaian doa seorang ayah dan bunda yang tidak pernah putus.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْد.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً، وَالْـحمدُ للَّه كثيراً، وَسُبْحانَ اللهِ بُكرةً وَأَصِيلاً، لاَ إلهَ إلا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إلا إيَّاه، مُـخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكاَفِرُونْ، لاَ إِلَهِ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَه، وَنَصَرَ عَبْدَه، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَه، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، اللهُ أكْبَر،اللهُ أكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْد

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْم، فَقَالَ: ((إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا))

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْم، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْم، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاء، وَالْغَلَاء، وَالْوَبَاء، وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَر، وَالْبَغْي، وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَة، وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْألُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى.

اَللَّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ عِلْمًا ناَفِعًا، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلا.

اللَّهمَّ إِنَّا نَسْألُكَ الهُدَى والسَّدَاد.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَل، والبُخْلِ والهَرَم، وَعَذابِ القَبْر.

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَناَ تَقْوَاهَا، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا.

 اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَع، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَع، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَع،وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجابُ لَهَا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَء، وَدَرَكِ الشَّقَاء، وَسُوءِ القَضَاء، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء.

اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَناَ دِيْنَناَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِناَ، وأصْلِحْ لَناَ دُنْيَاناَ الَّتي فِيهَا مَعَاشُناَ، وأصْلِحْ لَناَ آخِرَتِناَ الَّتي فِيهَا مَعَادُناَ، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ في كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوتَ رَاحَةً لَناَ مِنْ كُلِّ شَرّ.

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْن، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْن، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait