Perbedaan Pakaian Haji untuk Laki-Laki dan Perempuan: Apa Saja Ketentuannya? 

Ibadah haji adalah puncak ibadah dalam Islam. Bagi jutaan umat Muslim yang berangkat setiap tahunnya, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna. Salah satu syarat yang melekat pada ibadah ini adalah mengenakan pakaian ihram. Pakaian ihram bukan hanya busana, melainkan simbol kesucian, kesetaraan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Menariknya, meskipun sama-sama disebut pakaian ihram, ketentuan untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan bagi calon jamaah, terutama yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji atau umrah. Apa saja perbedaannya, dan mengapa syariat mengaturnya demikian?

 

Pakaian Ihram untuk Laki-Laki

Bagi jamaah laki-laki, pakaian ihram sangat khas. Mereka diwajibkan mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan. Kain pertama disebut izar, yang dipakai menutupi tubuh bagian bawah dari pinggang hingga mata kaki. Kain kedua disebut rida, yang disampirkan di pundak untuk menutupi tubuh bagian atas.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, pakaian apa yang boleh dikenakan oleh orang yang sedang berihram?”

Beliau menjawab:

“Orang yang sedang ihram tidak boleh memakai baju (berjahit), sorban, celana panjang, mantel dengan penutup kepala, maupun sepatu. Kecuali jika seseorang tidak mendapatkan sandal, maka ia boleh memakai sepatu, tetapi hendaklah dipotong hingga di bawah mata kaki. Selain itu, janganlah kalian memakai pakaian yang terkena pewarna za’faran atau wars (sejenis pewangi).”
(HR. Bukhari, no. 1542)

Ketentuan ini disertai dengan sejumlah larangan penting:

  • Tidak boleh memakai pakaian berjahit. Laki-laki dilarang memakai kaos, celana, jubah, ataupun pakaian dalam. Larangan ini menegaskan pelepasan identitas sosial sehari-hari.
  • Tidak boleh memakai penutup kepala. Peci, topi, atau sorban tidak diperbolehkan. Hal ini menandakan kesetaraan, karena semua jamaah laki-laki tampil sama tanpa atribut kehormatan.
  • Tidak boleh memakai alas kaki tertutup. Sepatu yang menutupi mata kaki dilarang. Laki-laki dianjurkan memakai sandal atau alas kaki terbuka. Jika memakai khuf (sepatu dari kulit), bagian atasnya harus dipotong agar tidak menutup mata kaki.
  • Tidak boleh menggunakan wewangian. Setelah niat ihram diucapkan, segala bentuk parfum atau wangi-wangian tidak boleh dipakai.

Dengan ketentuan ini, laki-laki tampil benar-benar sederhana. Dua helai kain putih itu membuat semua jamaah setara, tanpa perbedaan status, pangkat, atau harta.

 

Pakaian Ihram untuk Perempuan

Berbeda dengan laki-laki, jamaah perempuan tidak diwajibkan mengenakan dua helai kain putih. Mereka diperbolehkan memakai pakaian berjahit, asalkan sesuai dengan syariat.

Beberapa ketentuan penting untuk perempuan antara lain:

  • Pakaian harus menutup aurat. Biasanya berupa gamis atau abaya longgar yang tidak transparan dan tidak membentuk tubuh.
  • Boleh berwarna selain putih. Warna putih memang dianjurkan karena melambangkan kesucian, tetapi bukan keharusan. Perempuan boleh memakai warna lain selama tidak mencolok dan tidak menarik perhatian.
  • Boleh memakai jilbab atau kerudung. Kepala perempuan adalah aurat, sehingga wajib ditutup dengan jilbab. Namun, cadar atau niqab dilarang, sehingga wajah harus terbuka.
  • Tidak boleh memakai sarung tangan. Telapak tangan perempuan tidak boleh ditutup dengan sarung tangan selama ihram.
  • Tidak boleh berhias berlebihan. Perempuan dianjurkan mengenakan busana sederhana, tanpa bordir, payet, atau hiasan mencolok yang bisa mengundang perhatian.

Dengan aturan ini, perempuan tetap bisa menjaga aurat sekaligus menegakkan prinsip kesederhanaan yang menjadi ruh ihram.

 

Makna dan Hikmah di Balik Perbedaan

Mengapa ada perbedaan aturan antara laki-laki dan perempuan? Jawabannya terletak pada hikmah syariat.

  • Bagi laki-laki, larangan pakaian berjahit dan penutup kepala menegaskan pelepasan status sosial. Semua orang, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, berdiri sama di hadapan Allah.
  • Bagi perempuan, syariat memberi keleluasaan agar aurat tetap terjaga. Karena itu, mereka boleh memakai pakaian berjahit, dengan syarat tetap sederhana dan sesuai syariat.

Meski aturannya berbeda, tujuan keduanya sama: menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan, kesederhanaan, dan kepatuhan total kepada Allah.

 

Tips Praktis Menyiapkan Pakaian Ihram

Bagi calon jamaah, memahami teori saja tidak cukup. Persiapan praktis juga penting agar ibadah lebih lancar.

Beberapa tips yang bisa diterapkan adalah:

  • Untuk laki-laki, pilih kain ihram yang cukup tebal, tidak transparan, dan mampu menyerap keringat. Gunakan sabuk khusus agar kain tidak mudah lepas.
  • Untuk perempuan, pilih busana yang nyaman, longgar, dan tidak panas. Bahan katun biasanya menjadi pilihan tepat karena ringan dan menyerap keringat.
  • Bawa lebih dari satu set pakaian ihram sebagai cadangan, untuk mengantisipasi jika pakaian terkena najis atau kotor.
  • Hindari pakaian yang berwarna mencolok atau penuh hiasan. Ingat, kesederhanaan adalah inti dari pakaian ihram.

Penutup

Pakaian ihram bukan sekadar pakaian ibadah. Ia adalah simbol kesetaraan, kerendahan hati, dan kesucian niat dalam beribadah kepada Allah. Perbedaan ketentuan antara laki-laki dan perempuan adalah wujud kebijaksanaan syariat agar masing-masing bisa menjalankan ibadah dengan nyaman sekaligus sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Dengan memahami dan menyiapkan pakaian ihram sesuai syariat, jamaah tidak hanya memastikan ibadahnya sah, tetapi juga dapat meresapi makna spiritual yang terkandung di dalamnya.

👉 Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Manasik Haji terpercaya bersama KBIHU Multazam – Ad Dakwah DI Yogyakarta, silakan hubungi kami melalui WhatsApp di wa.me/+6289510397337 atau bisa juga dengan mengikuti chanel KBIHU Multazam dengan klik: https://whatsapp.com/channel/0029Vb4U6dU4tRrmVdaJdu45 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait