Danantara Bangun Kampung Haji di Makkah: Mimpi Besar Indonesia untuk Jemaahnya
Untuk pertama kali dalam sejarah, Indonesia bersiap memiliki kawasan hunian permanen di Tanah Suci. Di balik proyek ambisius ini, ada angka-angka besar, peluang ekonomi yang luas, dan pertanyaan soal akuntabilitas yang belum terjawab.
Bayangkan jutaan jemaah haji Indonesia yang selama ini harus berjuang dengan akomodasi seadanya, antrian panjang, dan jarak tempuh yang melelahkan dari hotel ke Masjidil Haram. Kini, ada rencana besar untuk mengubah itu semua. Di sinilah Proyek Kampung Haji Indonesia hadir, sebuah inisiatif yang digawangi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan menjadi salah satu proyek paling disorot di awal 2026.
Bukan proyek kecil. Dan bukan tanpa tantangan.
Hotel 4.641 Kamar dan 5 Hektare Lahan
Pada pertengahan Februari 2026, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengungkap secara terbuka apa yang sudah dikerjakan timnya. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, ia menyampaikan bahwa Danantara telah mengakuisisi satu hotel dengan total 4.641 kamar, serta lahan seluas lima hektare yang rencananya akan dibangun 13 tower hunian di atasnya.
Lokasi proyek disebutnya sangat strategis, berada sekitar 600 meter dari Masjidil Haram, jantung ibadah umat Islam sedunia.
“Yang kita lakukan pembelian itu adalah satu hotel, terdiri dari 4.641 kamar, sudah disaksikan langsung, lalu lahan total 5 hektar yang akan dibangun 13 tower,” ujar Rosan saat konferensi pers di Wisma Danantara, Jumat (13/2/2026). Ia juga menjelaskan bahwa pada tahap pertama proyek, pembangunan terowongan sudah rampung. Tahap kedua berupa pengembangan 13 tower kini masih dalam proses perhitungan inflow pembangunan.
Kunjungan Langsung ke Makkah
Jauh sebelum pengumuman itu, jejak proyek ini sudah dimulai pada Agustus 2025. Atas mandat langsung Presiden Prabowo Subianto, Rosan melakukan kunjungan kerja ke Jeddah dan Makkah untuk meninjau langsung potensi lahan dan mengawal proses negosiasi. Dalam kunjungan itu, ia meninjau lebih dari 10 opsi lahan dan 3 proyek besar yang ada di Makkah, sekaligus bertemu dengan otoritas Kerajaan Arab Saudi, termasuk Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC), Kementerian Haji dan Umrah, serta Kementerian Investasi Saudi Arabia.
Danantara menyebut kunjungan ini bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia mengambil inisiatif terukur untuk memiliki fasilitas resmi dan permanen di Makkah. Momen ini juga bertepatan dengan kebijakan baru pemerintah Arab Saudi yang membuka peluang bagi entitas asing untuk memiliki properti di Makkah, sesuatu yang sebelumnya sangat sulit dilakukan.
Skala Proyek dan Dana yang Dibutuhkan
Gambaran keseluruhan proyek ini memang berskala raksasa. Kawasan Kampung Haji direncanakan berdiri di atas lahan lebih dari 80 hektare di kawasan Jabal Hindawiyah, setara sekitar 2,5 kali luas SCBD Jakarta, terhubung jalur kereta cepat dan akses pedestrian menuju Masjidil Haram.
Selain 13 tower hunian, proyek ini juga mencakup satu pusat perbelanjaan dengan kapasitas menampung hingga 23.000 jemaah. Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Rivqy Abdul Halim, menyebutkan perkiraan dana pembangunan proyek ini berada di kisaran US$700 hingga 800 juta, atau setara Rp11,6 hingga 13,2 triliun. Adapun hotel yang telah diakuisisi adalah Novotel Makkah Thakher City dengan 1.461 kamar dan kapasitas hingga 4.383 jemaah, sebagai bagian dari tahap awal sebelum seluruh tower selesai dibangun.
Lebih dari Sekadar Akomodasi
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, menegaskan bahwa arahan Presiden bukan hanya soal membangun fasilitas, melainkan menunjukkan kualitas Indonesia di panggung dunia. Visi Kampung Haji dirancang sebagai kawasan terpadu yang mencakup akomodasi, konsumsi, transportasi, fasilitas kesehatan, hingga ekosistem bisnis halal yang terintegrasi.
Ini membuka peluang ekonomi yang signifikan bagi pengusaha Indonesia. Beberapa sektor yang paling terbuka antara lain kuliner halal berstandar tinggi, fashion muslim dan modest wear, layanan travel dan hospitality, klinik kesehatan dan farmasi, hingga teknologi syariah seperti payment gateway halal dan aplikasi transaksi halal.
Dengan potensi peningkatan kuota haji dua kali lipat dalam lima tahun ke depan, arus jemaah dan aktivitas ekonomi di kawasan ini diprediksi akan terus membesar, menjadikannya pasar baru yang menjanjikan bagi pelaku usaha Indonesia yang ingin merambah pasar Timur Tengah.
Suara DPR: Apresiasi Tapi Harus Akuntabel
Tidak semua pihak merespons dengan sorak sorai tanpa catatan. Rivqy Abdul Halim mengapresiasi langkah Danantara, namun langsung mengiringinya dengan pesan tegas soal transparansi.
“Danantara tidak boleh bekerja secara tertutup. Transparansi mutlak diperlukan untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan, baik dalam pengelolaan aset, penggunaan anggaran, maupun penentuan mitra. Setiap rupiah uang negara harus kembali dalam bentuk manfaat nyata bagi jemaah,” tegasnya, Kamis (18/12/2025).
Ia juga mendorong agar perkembangan pembangunan dilaporkan secara berkala kepada publik. Dengan skala sebesar ini, anggaran triliunan rupiah, lahan di negara asing, dan amanat langsung dari Presiden, pengawasan sejak dini dinilai menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Senada, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) juga menekankan bahwa seluruh proses pembangunan Kampung Haji harus berorientasi pada pemberian nilai manfaat yang nyata bagi jemaah, bukan sekadar proyek investasi properti semata.
Danantara Bergerak Cepat
Di sisi lain, Danantara menegaskan komitmennya untuk mengawal proyek ini dari hulu ke hilir. Dalam pernyataan resminya, lembaga ini menyebutkan bahwa Kampung Haji bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang menghadirkan rasa aman dan bangga bagi para jemaah yang menjalankan ibadah jauh dari tanah air.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman dan bangga bagi para jemaah kita. Kami ingin setiap jemaah yang datang ke Tanah Suci merasakan dukungan penuh dari negara, bahkan jauh dari tanah air,” ujar Rosan.
Rosan juga menegaskan bahwa fokus investasi Danantara di 2026 jauh lebih luas dari sekadar Kampung Haji, mencakup proyek waste to energy senilai Rp84 triliun di 7 kota, konsolidasi BUMN galangan kapal, hingga penguatan kemitraan global.
Sejarah Baru yang Baru Saja Dimulai
Proyek Kampung Haji adalah kisah tentang ambisi. Indonesia, negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia, akhirnya bergerak untuk punya tapak permanen di tanah yang selama ini hanya bisa dikunjungi, bukan dimiliki. Namun sebagaimana proyek-proyek besar lainnya, niat baik saja tidak cukup. Eksekusi yang disiplin, tata kelola yang transparan, dan keberpihakan nyata kepada jemaah, bukan sekadar pada angka investasi, akan menjadi penentu apakah proyek ini kelak dicatat sebagai pencapaian bersejarah, atau sekadar wacana megah yang kandas di tengah jalan.
Danantara sudah melangkah. Kini tinggal membuktikan.
Bagi Anda yang akan menunaikan ibadah haji, pastikan untuk mengikuti program Manasik Haji melalui lembaga resmi yang terpercaya. Salah satunya adalah KBIHU Multazam, yang telah berpengalaman membimbing jamaah haji secara menyeluruh dan sesuai syariat. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran, silakan hubungi KBIHU Multazam di wa.me/+6289510397337





